#JKW4P : Dibilik Suara Diingatkan Istri dan teringat Jokowi, akhirnya dari 4 kartu suara 2 kupilih PDIP


Sobat,

Sehari sebelumnya saya pernah bersikap tidak akan memilih PDIP karena masa lalunya, namun malam hari jelang keesokan Pileg 9 April 2014, istriku berkata, kalau mau Jokowi menang ya milih PDIP, itu logika sederhana dari seorang wanita ibu rumah tangga yang kini sedikit demi sedikit melek politik.

Dari ungkapan sederhana istri saya dan melihat iklan Jokowi yang saya unduh dari Youtube, maka ego dan nalar bertarung cepat, sehingga akhirnya saya membuat keputusan penting yakni akan memilih PDIP walau calegnya tidak saya kenal betul. Saya katakan keputusan penting, karena selama ini sejak 1998, saya antipati dengan PDIP dan Megawati, lebih memilih Amien Rais dengan PAN nya.

Tapi Amien Rais dengan PAN nya tinggal masa lalu, semenjak Hatta Rajasa memimpin PAN dilanjut dengan besanan dengan SBY, saya beranggapan PAN sama dengan Demokrat. Saya mungkin masih menyukai Amien Rais kala itu, namun kala dia mulai nyinyir menilai Jokowi saat Pilkada DKI dan yang terkini malahan menganggap Jokowi musuh bersama maka dengan sangat terpaksa saya tanggalkan rasa simpatik dan kekaguman saya kepada sang King Maker Amien Rais Lokomotif Reformasi.

Kembali ke perubahan sikap saya diatas, segera saya buka kembali data siapa saja yang nyalon didaerah saya dari mana dan partainya apa. Dari 4 bakal kartu suara yang besoknya harus saya cubles, saya dapati informasi kalau tingkat kabupaten ada tetangga dekat yang nyaleg dari P3, ditingkat Propinsi ada caleg dari PDIP yang stikernya ternyata ditempel istri dikaca tempat kami biasa bercermin, lalu ditingkat Pusat ada mantan Bupati Bantul yang konon bermasalah nyaleg lewat PDIP, yang terakhir adalah DPD, dimana dalam tulisan sebelumnya saya tidak bakal memilih sang Ratu dengan alasan tertentu.

Dengan demikian akhirnya saya membuat keputusan, untuk memilih caleg dari P3 untuk tingkat kabupaten, kan nggak nyaman dengan tetangga sendiri kok nggak acc, toh dia bukan dari Golkar atau Demokrat atau (maaf) Nasdem dan Gerindra. Sedangkan untuk tingkat Propinsi saya akan memilih caleg PDIP yang stikernya nempel dikaca tadi, untuk tingkat Pusat karena Caleg PDIP yang saya tahu hanya eks Bupati Bantul yang masih bermasalah maka saya hanya memilih Partainya. Sedangkan untuk DPD, karena saya tidak tahu siapa kandidat yang lain, saya akan putuskan nanti saja dibilik suara.

Selanjutnya briefing singkat saya berikan kepada istri dan 2 anak saya yang tahun ini kebetulan keduanya sudah punya hak pilih, dengan pilihan sesuai tulisan diatas. Ini bukan paksaan kepada mereka, saya hanya punya kewajiban mengarahkan kedua anak saya karena saya yakin mereka sama sekali tidak punya pilihan politik, tentu sayang kalau suara mereka dibuang percuma, asal cubles asal pilih.

Dengan demikian dari keluarga saya setidaknya ada 4 orang yang akan memilih PDIP, yakni di tingkat propinsi dan Pusat, itu teorinya, karena bisa saja dibilik suara, mereka asal cubles atau bingung lihat lembaran surat suara yang mendadak mereka dapati tanpa ada sosialisasi sama sekali dari KPUD atau pengurus lingkungan setempat. Terus terang sayapun sedikit bingung membaca keterangan surat suara yang saya dapat, walau saya sudah berkali-kali ikut pemilu, apalagi anak-anak yang baru pertamanya ikut pemilu.

Demikianlah kisah singkat perubahan sikap saya dalam Pileg 2014, ini semua gara-gara Jokowi seorang, Jokowi yang menjanjikan harapan besar bagi masa depan Indonesia.

Pileg 2014 di Canden


Canden, Rabu 9 April 2014 
Tulisan ini baru sempat dituang pada hari minggu dini hari 13 april 2014

#2019PROJOKOWI

...