Mungkinkah Muhammadyah Masuk Ranah Politik di 2014?

Majunya Jokowi dicapreskan PDIP membuat pertarungan politik di Pemilu 2014 makin hot. Banyak yang pada golput turun gunung demi seorang Jokowi. Kalau pemilu lalu hak suara mereka dibuang tanpa sayang, kini para pendekar golongan putih akan merasa bersalah seumur hidupnya bila satu-satunya suara yg mereka miliki terkulai tidak digunakan. Semangat menyambut pesta demokrasi 2014 teramat sayang buat mereka lewatkan.

Termasuk dalam hal ini adalah ormas islam Muhammadyah, yang anggaplah mereka termasuk Golongan Putih, golongan yang tidak mau ambil bagian dalam kiprah politik, alias sudah terbiasa dijadikan obyek politik kalau saya bilang. Maaf.

Langsung tunjek point saja, di 2004 Mega pernah berpasangan dengan kyai NU Hasyim Muzadi, kini kalau PDIP gandeng Muhammadyah apa salahnya, dengan masa yang konon lebih dari 28,000,000 (dua puluh delapan juta) umat tentunya itu aset yang cukup menawan buat dipertarungkan di Pilpres 2014. Walau 28 juta itu belum tentu semua punya hak pilih juga, tapi kalau diambil 50% saja masih punya kontribusi 14 juta potensial pemilih. Lumayanlah,... 

Umat Islam, khususnya petinggi Muhammadyah masih berandai andai, siapa ya kira-kira cawapres Jokowi kelak, yang cocok dengan Muhammadyah? Sehingga Muhammadyah akan secara resmi "menghimbau" anggotanya untuk sebaiknya memilih pasangan Capres cawapres si Anu atau si Una.

Kenapa harus berandai2 siapa wakilnya? Kenapa Muhammdyah tidak ambil kesempatan emas ini? Jangan macam Pemilu 2004 dulu, Muhammdyah bangga dengan netralitasnya dengan tidak mendukung PAN secara resmi, ya akibatnya PAN jeblok suaranya hanya dapat 7% (kalau saya tidak salah ingatan) sehingga kandaslah the King Maker Amien Rais naik menjadi RI 1. Bye bye pak Amien,... :)

Ingin perubahan hebat di negeri ini? 
Mengambil kesempatan porsi Cawapres Jokowi toh bukan dosa, kalau acuannya Muslim, mister Jok kan Muslim, sudah haji pula, apalagi masalahnya?

Pro kontra sdh biasalah bila Muhammadyah terjun ke arena politik di 2014, toh bukan suatu dosa besar berpolitik itu. Sayang kan, kalau Dien Samsyudin sudah mau dicawapreskan namun Muhammadyah tidak mendukungnya.

Dekatilah dan lobbylah PDIP dari sekarang, jangan sampai kedahuluan PKB dengan Mahfud MD nya lho. :)

Jargonnya cukup mudah diingat. #JKW4P, Jokowi presidenMU.... hehe..

Berikut ini link kunjungan Jokowi ke Muhammadyah Pusat menemui beberapa pengurus Muhammadyah termasuk disitu ada Dien Samsyudin sang Ketua. Dien Syamsudin yang kalau diminta jadi Cawapres Jokowi pasti maulah. Ya nggak mister.. :)


Tulisan galau dilayar andro 4.3" memang tak seenak dikibor compi  tapi bisa sambil rebahan melawan nyamuk dan kantuk. #plakss dapat 2 
.

#JKW4P : Semua Boleh, Asal Santun! Kata Prabowo

Prabowo for Presiden 2014

Boleh bohong, asal santun. 
Boleh khianat, asal santun. 
Boleh jual negeri, asal santun. 
Boleh korupsi, asal santun. 
Boleh jual kedaulatan bangsa pada orang asing, asal santun!

salah tunjuk :)

Makin tidak tertarik sama mereka, maaf saja. 
Apa nggak ada kalimat kampanye yang lebih SANTUN?

Ironi! Mau nebus 20% Lolos Nyapres kok lagunya begitu. 

Usakti, Minggu 23 Maret 2014 21.48 WIB
Makin Nyinyir, Makin Konyol, beginikah capres idola?

#JKW4P : Andai Yang Dikatakan "KONTRAS" Benar Adanya, Alangkah Mengerikan Negeri Ini Bila Dipimpin Salah Satu Dari Mereka

Wiranto dan Prabowo Tidak Masuk Daftar 'Bersih' Kontras


Ketua Kontras Haris Azhar, dalam konferensi pers di kantor Kontras, Menteng, Jakarta Selatan, Minggu (23/3/2014)
Menurutnya, dua partai itu dipimpin oleh orang yang bermasalah dengan kasus Hak Asasi Manusia (HAM). Ia menyebutkan Wiranto ketua umum Partai Hanura, pada 1997 menjabat sebagai Panglima TNI, dan dituduh terlibat dalam sejumlah kasus kekerasan seputar reformasi.
Begitu pun Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang saat reformasi menjabat sebagai Danjen Kopassus TNI AD, dan dituduh terlibat kasus penculikan aktivis. Keduanya sama-sama berniat maju sebagai presiden.

#2019PROJOKOWI

...