#JKW4P : Gara-gara Jokowi dicapreskan PDIP haruskah saya pilih PDIP? Sebuah pilihan yang berat bagi saya

Selamat siang kawan,

Saya dalam kebimbangan tanda kutip, saat melihat video yang saya dapat dari kanal Youtubenya KapanLagi.com, yang mana Jokowi mengkampanyekan untuk jangan golput dan coblos nomer 4 PDIP. Padahal selama ini sejak reformasi bergulir di 1998 tak pernah sekalipun tertarik dengan partai PDIP sak jerohannya, karena alasan-alasan tertentu yang saya yakini hingga kini.

Mungkin ada juga pemilih (bisa jadi cukup banyak) yang memiliki prinsip yang sama dengan yang saya lakonin, yakni, Jokowi Yes, PDIP NO!.

Nah, bila hal ini saya utarakan ke para kenalan kolega, mereka berkata, itu namanya munafik nggak konsekwen dan lain lainnya, apalagi bila yang saya ajak dialog, bukan simpatisan Jokowi, woo ada saja celotehnya. (hehehe peace ya kalau anda sempat baca tulisan ini)

Kalau itung-itungan dagangnya, saya berpandangan, dari pada golput, masih mendinglah, pileg nggak nyoblos apapun, tapi pilpres pasti lah Jowoki pilihanku. Jadi berimbang 50% golput buat Pileg, 50% sisanya buat #JKW4P sang "Jendral Besar".

Saya termasuk oknum masyarakat yang mendadak nJokowi, saya bilang mendadak, karena sebelumnya tidak terlalu setuju bahkan tidak terlalu perduli bila Jokowi lepas DKI 1 nya kemudian Hijrah ke pertarungan RI 1, namun dalam perenungan disela aktifitas keseharian akhirnya saya sreg untuk mendukung Jokowi maju ke RI 1, saya ingin satu satunya suara yang saya miliki mempunyai andil buat negeri ini untuk 5 (lima) tahun kedepan. (Ada cerita sendiri mengenai hal ini, kelak kalau sempat saya akan tulis di blog ini)

Kembali ke bimbangnya saya dalam menentukan akankah saya golput di pileg 9 April nanti, sedangkan saya lihat Jokowi #JKW4P beriklan menghimbau agar jangan pada golput dan pilihlah nomer 4. Logika politiknya memang akan lebih memudahkan Jokowi maju di Pilpres bila PDIP mendapatkan suara yang cukup yahud diatas 20% secara nasional. Walau saya meyakini, bila PDIP jeblog di Pileg pun, Jokowi tetap akan jadi Presiden, berdasar survey sana-sini selama ini, bahkan bila cawapresnya "sandal jepit" sekalipun pun.

Haruskah saya pilih PDIP, karena saya kini merasa harus loyal kepada Jokowi?


kok ya ada yang dapetin kumpulan gambar macam gini ya? kreatif

Usakti, Rabu 2 April 2014 13.32 WIB
Masih ada waktu untuk memastikan apakah PDIP akan saya pilih :(

#JKW4P : Boneka Itu Bernama JOKOWI? Ah yang bener bro ... :)

Sobat,

Jokowi hanya menjalani takdirnya menuju RI 1. Dari Walikota menuju Gubernur kemudian menjadi Kandidat "Terkuat" Capres 2014 bukanlah kejadian yang biasa-biasa dan ala kadarnya.
Apakah dia minta ke Mega untuk menjadi Gubernur dan kemudian menjadi Capres? TIdak bukan?
Semua atas "permintaan" atau perintah partai. Lalu apakah hal itu dianggap sebagai boneka Mega? Terlalu dini kalau vonis itu ditimpakan ke mahluk tuhan, capres terseksi, bernama Jokowi.

Sobat, Jokowi bukanlah orang bodoh, goblok atau pandir (maaf ya). Dia bukan pula orang yang lemah, lunglai, gontai tidak tegas seperti yang dipersepsikan orang.
Kalau bodoh, mana mungkin dia jadi walikota 2 kali, gubernur, dan kini dijadikan capres pula?
KAlau tidak tegas, bukankah dia sangat tegas dan tegaan kalau sudah prinsip? Bukti kasat matanya, sudah berapa pejabat/staff dibawahnya yang pindah tempat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya bila ketahuan ngaco kerjanya.

Sobat, saking piawainya Jokowi, sampai sampai Mega pun dibuat malu oleh nya (Jokowi) untuk nyapres lagi, dan tentu akan lebih malu lagi kalau Puan atau anaknya yang lain yang masih ijo-ijo dia capreskan. Itulah hebatnya Jokowi, dia tekuk dan luluh lantakkan ego seorang Mega dan dia berhasil. Siapa yang menjadi boneka yang akan mudah dikendalikan? Siapa mengendalikan siapa?

Pernah baca kisah Walikota melawan Gubernur? Walikota Solo , Jokowi, melawan Gubernurnya, Bibit Waluyo? Kasusnya tentang penggunaan lahan di Solo yang tidak sesuai aturan dan ditolak tegas oleh Jokowi, sehingga Bibit pun keki berat? Namun walau diatas angin, Jokowi tetap hormat kepada Bibit, gubernur atasannya, bahkan menyempatkan diri mencium tangan Bibit sewaktu dia didorong maju jadi Gubernur DKI waktu itu?
Apakah itu tanda kelemahan seorang Capres bernama Joko Widodo, mencium tangan seniornya sebagai tanda hormat sebagai orang timur, apalagi wong solo?

Jokowi bukan boneka, bukan pula pesuruh mega apalagi kepanjangan tangan pengusaha. Hanya karena mau maunya diseret seret nyapres oleh Mega, cium tangan mega dan ngobrol dengan pengusaha?

Sudahkah membaca permintaan Jokowi, cawapresnya harus yang memiliki kemampuan geopolitik dan wawasan global yang mumpuni, dimana kriteria ini menghancurkan ambisi sebagian elite PDIP yang masih saja nekat mau jagoin Puan jadi cawapres Jokowi?

Sudahkah memahami statement dia (sebagai calon presiden) kalau nanti kabinetnya nggak akan ada bagi-bagi kursi, nggak ada jatah jatahan dalam berkoalisi? Menteri ya bekerja untuk Presiden bukan untuk parpol. Nah!

Kalau setingkat Parpol saja dia berani tegas didepan, apalagi hanya dengan setingkat pengusaha yang konon jadi backing Jokowi. Boleh bantu kampanye, tapi nggak bakal ada pembagian proyek.

Sobat, itukah boneka yang dimaksud? Memang perlu pembuktian kelak, kita tak pernah tahu yang bakal "gila" nanti siapa? Mega dengan elite PDIP nya yang sama sekali tidak mampu mengendalikan Jokowi untuk urusan yang "aneh-aneh". Atau Jokowi makin kerempeng karena dia dicapreskan untuk sekedar di"boneka"kan oleh sang juragan. Terlalu murah harga seorang Jokowi bila seperti itu.

Lalu, apakah rakyat akan diam kalau toh kelak itu akan terjadi? Apakah sehina itu Mega, PDIP dan Jokowi?

Saya kira tidak sobat.
Salam,

Usakti, Selasa 1 April 2014 00.29 WIB
gak jadi Golput gara-gara Jokowi nyalon



.

#2019PROJOKOWI

...